Divorce isn't My Style
Divorce alias perceraian adalah
pilihan tersulit bagi sepasang suami istri yang sebelumnya mungkin menjalani
kehidupan pernikahan yang cukup normal. Kalau ada yang melakukan perceraian
dengan begitu mudahnya dan kemudian ‘berburu’ pasangan baru, bisa dikatakan orang
tersebut melakukan pernikahan hanya untuk sekedar main-main saja. Sebagai
manusia yang memiliki iman dan menyadari penuh bahwa perintah untuk menikah
adalah salah satu cara yang diberikan Allah untuk melindungi wanita dan
laki-laki dari fitnah. Singkatnya, pernikahan
itu sakral. Dikatakan sakral karena ketika seseorang menikah, mereka
mengucap janji dan bersumpah atas nama Allah di depan penghulu, wali dan para
saksi. Tapi lucunya, kebanyakan dari manusia tidak menggubris apa makna pernikahan
sebenarnya. Alih-alih tidak lagi sejalan, pernikahan bisa seketika dibubarkan.
Begitu sepelekah janjimu di hadapan Allah?
Sadarkah kalian bahwa pasukan
setan sudah siap sedia memborbardir manusia yang konsisten melakukan kebaikan?
Sebelum anak manusia mengucap ikrar janji pernikahan, setan dengan segala
was-wasnya membuat manusia enggan berkomitmen. Setan lebih senang menunjukkan
kesenangan semu melalui zina tanpa harus menikah. Manusia ditakut-takuti dengan
segala hal dunia yang akan dihadapi saat mereka telah menikah. Setelah sepasang
manusia yang berlawanan jenis berhasil melangsungkan pernikahan, setan kembali
berduyun-duyun dengan anak cicitnya untuk membuat pernikahan tersebut hancur
berantakan. Tahukah kalian bahwa iblis akan memberikan reward kepada setan yang
berhasil menceraikan sepasang suami istri? Memang terdengar seperti novel horor
fiktif tapi ini benar adanya. Betapa ruginya manusia yang diciptakan Allah
secara sempurna tapi kalah melawan trik setan untuk membuat manusia berjamaah
menjadi penghuni neraka.
Perceraian adalah hal yang
dibenci Allah. Namun jika dalam pernikahan terjadi tindakan dholim yang
dilakukan salah satu pihak, ini bisa menjadi alasan yang dibenarkan untuk
menempuh jalan perceraian. Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui. Kalau di dalam pernikahan Anda merasa sering
mendapati tindakan kekerasan, perceraian menjadi hal yang diperbolehkan untuk
dilakukan. Karena di dalam pernikahan tersebut sudah tidak ada keridhoan satu
sama lain. Tapi jika Anda memutuskan tali pernikahan hanya karena kondisi
ekonomi yang terjun bebas, tidak kunjung diberikan keturunan, kondisi fisik
pasangan yang tidak sesuai harapan, berselisih paham bahkan perbedaan pandangan
itu sama sekali bukan keputusan yang tepat. Tidakkah kalian berpikir buah hati
dari pernikahan akan merasakan dampak negatif akibat perceraian? Memang,
manusia yang sedang dihasut oleh setan akal sehatnya cenderung menjadi
irasional. Sebegitu pengecutnya para pasangan yang melempar bola api berwujud
perpisahan kepada anak yang masih membutuhkan pendampingan dari kedua orang
tuanya.
Bagaimana Anda bisa dikatakan
sebagai orang yang sudah dewasa, tapi cara berpikirnya tidak jauh beda dengan
anak-anak yang tengah memperebutkan mainan. Pernahkah kalian melihat anak-anak
yang sedang memperebutkan mainan? Masing-masing dari mereka merasa mainan itu
adalah haknya, sehingga mereka bertahan dengan ego masing-masing dan saling
menyalahkan satu sama lain. Dan kocaknya lagi, ternyata mainan yang
diperebutkan bukanlah milik salah satu dari mereka. Ya, itulah anak-anak.
Analogi sederhana untuk menggambarkan betapa konyolnya para pasangan yang
berlarut dalam masalah rumah tangga dan pada akhirnya memutuskan untuk bercerai
hanya karena tidak mau saling mengerti. Sabar memang senjata paling ampuh untuk
menghadapi setiap masalah. Namun tidak semua manusia mau telaten untuk
bersabar. Kebanyakan dari kita bahkan ada yang bilang sabar itu ada batasnya.
Eiitt... Sabar itu tidak ada batasnya. Yang membatasi adalah diri kita yang
merasa lelah menghadapi problem.
Bagi yang memiliki iman, akan
menyadari bahwa masalah yang dihadapi merupakan ujian dan itu pasti terjadi
atas kehendak Allah. Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuan yang
dimiliki. Dalam masalah rumah tangga maupun masalah hidup lainnya, harusnya
konsep ini bisa dipahami dan dijalankan dengan ikhlas. Tapi nyatanya manusia
lebih memilih untuk menyerah dan kemudian setan bertepuk tangan. “Kamu sih...
gak pernah di posisi saya, kalo cuma ngomong aja gampang,” pernyataan itu yang
sering didengar dari barisan orang-orang putus asa. Mengujarkan hal baik kepada
orang lain itu hukumnya wajib lho.
Kalau para motivator dinilai cuma bisa
berteori, sepertinya Anda kurang piknik. Buah pikiran itu bisa timbul karena
adanya pengalaman. Pengalaman tidak melulu harus dari pribadi, namun pengalaman
orang lain pun bisa menjadi bahan pelajaran untuk saling introspeksi diri. Tidak beda dengan juri di ajang adu bakat. Para peserta yang tampil pasti akan
dinilai dan dikomentari oleh juri baik itu positif maupun negatif. Juri pasti
menilai berdasarkan kualitas penampilan yang diberikan oleh peserta. Tidak ada
sejarahnya peserta menangkis komentar juri. Karena masing-masing peserta perlu
rendah hati untuk menerima setiap input yang diberikan juri demi perbaikan
kualitas penampilannya.
Hmm... ini dunia sob! Kita masih
harus terus berkutat memerangi setan hingga maut menjemput. Pikir kembali
dengan akal sehat. Kecurigaan terhadap pasangan dalam rumah tangga berawal dari
rasa cemburu. Sifat cemburu memang alamiah ada dalam diri setiap wanita. Dan
cemburu ini menjadi salah satu biang kerok terjadinya perceraian. Buat apa
selalu merasa curiga dengan pasangan, yang ada hanya capek hati. Pasangan
maupun kita sendiri sudah ada cctv nya dari Allah. Masing-masing manusia diberikan
3 malaikat untuk mengawasi setiap tindak tanduk kita secara adil dan tepat.
Lalu untuk apa susah payah buang-buang energi negatif meladeni hasutan anak
buah iblis? Subhanallah...
By Dita Gita Listian
Comments
Post a Comment