Say No to 'Nyinyir'

Tidak ada seorang pun yang berhak menghakimi orang lain. Belum tentu kitalah yang paling benar di mata Allah. Bisa jadi orang yang kita ‘nyinyirin’ itulah yang memiliki derajat yang lebih baik di mata Allah. Salah satu bentuk habluminannas (suatu rangkaian pekerjaan yang berhubungan langsung dengan manusia) yakni saling mengingatkan, yang pastinya mengingatkan untuk hal kebaikan. Tapi lagi-lagi mengingatkan bukan dengan cara merasa dirinya paling baik, paling benar, paling pintar, dan paling-paling yang lainnya... Hati-hati dengan cara halus syaitan yang berusaha mengusik kejernihan hati kita dengan godaannya untuk mengucapkan lisan mubadzir kepada orang lain. Na’udzubillah...

Perbanyaklah introspeksi diri. Berusalah untuk tidak usil dengan kehidupan orang lain. Karena sesungguhnya apapun yang dilakukan setiap manusia kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah melalui yaumul hisab, hari dimana Allah memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya tentang amal mereka dengan seadil-adilnya dan tanpa terkecuali. Bagi manusia yang mau berpikir, ini merupakan ketetapan yang tidak dapat dipungkiri. Tapi bagi mereka yang menganggap ini hanya sebagai bualan atau bahkan sepenggal scene dalam novel fiktif semata, yaa ndak masalah... karena penyesalan tidak pernah datang di awal.

Jengkel...?!? Manusiawi lah ya... Ketika kita sedang berupaya menjalani hidup sebaik mungkin menurut versi kita, tiba-tiba nongol makhluk ajaib yang mengusik ketenangan hidup. Seolah dia lah yang paling baik di antara yang terbaik. Woles kawan... itu bagian dari ujian kita sebagai manusia. Orang yang bijak akan tetap konsisten melakukan perbaikan dalam hidupnya tanpa peduli cuitan miring dari orang lain. Sebagai orang yang sering jadi target nyinyiran dari pihak yang tidak bertanggung jawab, baiknya kita jadikan itu sebagai bahan introspeksi. Karena orang nyinyir biasanya memiliki dua kecenderungan. Pertama, hidup mereka tidak lebih baik daripada hidup ente. Kedua, ente memang orang yang pantas untuk dinyinyirin.

Kalau kita mau buka hati dan pikiran, sebetulnya kita perlu merangkul orang-orang yang punya bakat ngomong yang berlebih alias nyinyir. Bisa jadi, mereka nyinyir karena kurang perhatian atau bahkan kurang kerjaan. Jadi kita bisa bantu ‘siram’ jiwanya supaya merasa lebih diperhatikan dan ajak untuk melakukan aktifitas positif supaya si nyinyir bisa menyibukkan dirinya dengan bobot pekerjaan yang lebih dari biasanya. Yah... kembali lagi mengenai filosofi hidup, life it’s choice. Mau memilih untuk jadi nyinyir atau tidak, itu hak asasi masing-masing orang. Bagi kita yang tidak suka hidupnya dinyinyirin, cuma punya dua opsi. Abaikan and go ahead atau dengarkan but don’t baper (bawa perasaan).

That’s simple thing dan tidak perlu jadi ikut-ikutan nyinyir  habis baca tulisan ane yee intipers... ^^

*by Dita Gita Listian

Comments

Popular posts from this blog

You’re Not Important.. but My Self ???

Hidupmu Tidak Semalang Pikiranmu

Tidak Masalah Kuper yang Penting Kualitas Super